Mencari rekan usaha ibarat mencari pasangan hidup di dunia bisnis. Faktor utama yang menentukan sukses atau tidaknya suatu bisnis adalah rekan atau yang biasanya disebut co-founder. Salah mendapatkan rekan bisa berakibat buruk dan awal runtuhnya usaha yang dirilis bersama.

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan saat mengajak seseorang untuk bersama-sama membangun usaha

1. LOYALITAS

Loyalitas adalah hal yang WAJIB ada dalam diri rekanan. Dunia usaha adalah dunia yang sangat dinamis, kadang suatu usaha itu berjalan dengan lancar tapi lebih banyak juga terkena rintangan, gangguan, dan kenyataan pahit yang musti dihadapi. Rekan yang loyal atau setia, akan sangat membantu disaat kondisi perusahaan sedang genting. Mereka akan tetap ada disisi anda, berjibaku menghadapi semua rintangan. Berfikir bersama-sama untuk mencari solusi terbaik bagi kelangsungan usaha.

Jika rekanan tidak loyal, maka yang ada adalah anda siap dijadikan kambing hitam atas semua hal buruk yang terjadi. Alih-alih bekerjasama, rekan model seperti ini justru akan ikut-ikutan menambah beban dan menusuk dari belakang. Mereka akan memikirkan keselamatannya sendiri. Dan harusnya sebuah usaha itu bisa bertahan, malah menjadi bangkrut karena rekan yang tidak loyal seperti ini. Hindari dan buang jauh-jauh, meskipun mereka punya dana yang bisa berguna untuk modal usaha sekalipun. Jangan pernah kerjasama.

2. JUJUR

Point ke 2 yang WAJIB ada dalam diri calon rekanan adalah Kejujuran. Jujur disini berkaitan dengan pekerjaan, bukan untuk masalah pribadi. Karena usaha dibangun bersama-sama, maka segala urusan dan masalah yang menyangkut usaha patut didiskusikan bersama-sama juga. Rekan yang jujur akan memudahkan kita untuk mencari solusi pemecahan masalah.

Hal ini akan bertolak belakang dengan rekan yang tidak jujur. Segala urusan bakal kacau balau, solusi yang diambil tidak tepat, dan bisa jadi usaha akan ambruk sebelum berkembang karena dihantam dari belakang oleh orang dalam sendiri. Jika calon rekanan diragukan kejujurannya, lebih baik tinggal saja.

3. PENGALAMAN

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Setinggi-tinggi gelar akademis, jika tidak punya pengalaman menghadapi permasalahan riil di lapangan, maka pertimbangkan lagi untuk diajak membangun usaha. Tidak ada bisnis yang berjalan mulus dan tidak semua teori bisnis yang ditulis di buku-buku best seller itu bisa menjadi pemecahan masalah. anda akan memerlukan seseorang yang bisa berimprovisasi dalam mencari solusi. Seseorang yang kaya akan pengalaman sehingga memiliki insting yang bagus dalam mengambil keputusan.

Rekanan yang tidak memiliki pengalaman biasanya cenderung ngeyel, atau malah sebaliknya pasrah habis-habisan. Jika terjadi masalah, akan sangat sulit sekali meminta masukan solusi dari mereka karena mereka tidak pernah menghadapi persoalan yang seperti itu. Jika memang terpaksa mendapat rekan yang tidak memiliki pengalaman, maka anda harus bisa memberi penjelasan tentang seluk beluk bisnis yang akan dijalankan sehingga mereka paham resikonya, tidak cuma melihat keuntungannya saja.

4. KEAHLIAN

Seseorang dengan keahlian yang dibutuhkan dalam membangun bisnis adalah potensi yang sangat berharga. Dengan rekan yang ahli, anda akan lebih mudah mendelegasikan tugas dan bersama-sama menjalankan Perusahaan. Keahlian disini meliputi Hard Skill dan Soft Skill. Jika anda ingin membangun bisnis IT misalnya, maka anda bisa mencari rekanan yang menguasai teknis IT. Atau jika anda sendiri ahli dalam bidang IT, maka anda harus mencari rekanan yang memiliki skill di bidang bisnis, manajemen, keuangan, atau pemasaran.

Jika ada calon Rekanan yang tidak memiliki keahlian yang berguna dalam bisnis yang akan anda bangun, sebaiknya pertimbangkan kembali. Anda bisa menjadikannya sebagai penyandang dana atau rekanan pasif, tapi satu hal yang musti diperhatikan, bahwa anda akan sendirian dalam menjalankan usaha yang menyebabkan semua resiko jalan tidaknya perusahaan akan menjadi tanggung jawab anda. Siap?

5. SEMANGAT

Rekan yang bersemangat tinggi adalah bagian penting dalam usaha. Disaat merasa lelah dan letih dalam membangun usaha, apalagi jika ada terselip rasa ingin menyerah, seseorang dengan semangat tinggi akan selalu mengobarkan api perjuangan. Biasanya tipikal seperti ini adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Selalu optimis dalam memandang suatu hal dan tidak akan mundur menghadapi segala rintangan.

Tapi ada sisi negatif dari semangat tinggi yang overload. Bisa jadi harapan dan target terlalu muluk sehingga akan menyusahkan jalannya usaha. Ada baiknya semangat yang ada diimbangi oleh sifat realistis, karena bisnis itu tidak selalu maju terus pantang mundur, tapi adakala juga perlu berhenti, merubah arah, atau bahkan berjalan mundur sejenak untuk mencapai target yang lebih besar.

KESIMPULAN

Mencari rekanan yang baik memang susah, oleh karena itu sebaiknya berhati-hati. Jika usaha masih bisa dijalankan sendiri, maka jalankan aja sendiri, jangan buru-buru mencari rekan. Pilih dan seleksi rekanan dengan cermat, jangan hanya melihat omongannya saja atau melihat duitnya saja, karena bisnis memerlukan waktu yang lama untuk berkembang. Jangan sampai pada akhirnya anda sendiri yang kelimpungan karena rekan yang ada alih-alih bisa menjadi tandem yang baik malah menjadi musuh dalam selimut yang menggerogoti usaha.

 

Categories: Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 6 =

Related Posts

Bisnis

Untung Rugi Ecommerce dari sisi Penjual

Jika diartikel sebelumnya, saya mengulas Untung Rugi Ecommerce dari sisi Pembeli, maka kali ini saya ingin mengulas tentang Untung Rugi Ecommerce dari sisi Penjual. Tentunya sebagai Penjual, banyak hal positif jika beralih ke penjualan produk secara Read more…

Bisnis

Untung Rugi Ecommerce dari sisi Pembeli

Ecommerce dan Online Shop tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dukungan teknologi yang semakin maju dan semakin luasnya penetrasi internet di masyarakat membuat bisnis berjualan secara online ini kian berkembang. Tapi apa keuntungan dan kerugiannya? Read more…

Bisnis

6 Softskill untuk menjadi Technopreneur

Berikut ini adalah Presentasi saya tentang 6 Softskill untuk menjadi Technopreneur.